RUMAH BACA JALAPUSTAKA

"Menjala Dunia Dengan Membaca"

Subscribe
Add to Technorati Favourites
Add to del.icio.us
30 Januari 2009

Jala Pustaka Goes to Australia

Diposting oleh jalapustaka

Hahaha.. judul di atas bukan berarti Rumah Baca Jala Pustaka benar-benar Goes to Australia, tetapi suaranya saja, lebih tepatnya, suara saya.

Begini ceritanya...

Pada hari Rabu, 28 Januari 2009 tiba-tiba ada seorang perempuan yang menelpon saya, katanya dari SBS Radio, Melbourne, Australia untuk program siaran berbahasa Indonesia, yang tertarik ingin mewawancarai saya perihal Rumah Baca Jala Pustaka. Perempuan itu bernama Ibu Sri Dean. Katanya, dia sudah mengirimkan email pemberitahuan sebelumnya. Wew, saya nggak tahu, lha wong emailnya belum saya buka. Sambil menerima telepon, saya membuka email jalapustaka, ternyata benar.

Setiap minggunya SBS Radio Melbourne Program Berbahasa Indonesia siaran tiga kali yaitu pada hari Selasa dan Jum'at dari pukul 14:00 - 15:00 AEST (pk. 10:00 - 11:00 WIB). Untuk hari Kamis, dari pukul 22:00 - 23:00 AEST (pk. 18:00 - 19:00 WIB). Para Pendengarnya adalah siapa saja yang dapat berbahasa Indonesia di Australia. Siaran SBS juga distreaming sehingga dapat didengar dan diakses lewat internet oleh siapa saja baik di dalam maupun di luar Australia.

Nah, pada hari Jumat, 30 Januari 2009, jam 10.30 SBS berniat mewawancari saya perihal pendirian dan pengelolaan Rumah Baca JalaPustaka, juga bagaimana perkembangannya selama ini serta rencangan kegiatan ke depannya. Dan kenapa saya menggemari buku.

Waaaaawwwww... saya senang sekali, sambil mengira-ngira, dari mana mereka tahu tentang Jala Pustaka ya? apa iya dari blog ini? Padahal blog ini baru beberapa minggu saya buat, dan isinya juga belum banyak-banyak amat.

Sambil menunggu hari H, saya mulai mempersiapkan dalam kepala kira-kira apa yang akan saya katakan dalam wawancara tersebut. Tentang pendirian dan pengelolaan Jala Pustaka, itu sudah pasti; tentang koleksi Jala Pustaka yang sebagian besar koleksi pribadi, itu juga boleh; tentang minat baca masyarakat desa yang terbilang rendah ataupun tidak adanya akses terhadap buku untuk masyarakat desa, itu juga oke; tentang kurangnya perhatian pemerintah terhadap perkembangan rumah-rumah baca di masyarakat, itu juga mungkin; tentang apa lagi ya..

Dalam khayalan tingkat tinggi saya, akan ada beberapa orang baik dari negeri kanguru yang setelah mendengar tentang Jala Pustaka, menjadi tergerak untuk ikut membantu, terutama pengadaan buku-buku. Dan efek berantai dari ini, bisa menginspirasi orang lain untuk ikut mendirikan rumah-rumah baca di daerahnya masing-masing. Dan efek berantainya lagi, Pemerintah bisa lebih peduli terhadap perkembangan rumah baca di masyarakat. Apalagi, pihak kelurahan Kedungwuni Timur tempat Jala Pustaka berada belum sekalipun menengok atau setidaknya mengetahui keberadaan Jala Pustaka, padahal letak kantornya sangat dekat dengan Jala Pustaka, ini yang jauh-jauh dari Australia aja sudah tahu. Hehehe, ini sekedar khayalan tingkat tinggi saya saja.

Datanglah hari H wawancara. Untuk mengantisipasi gangguan jaringan, sebelumnya saya sudah memberitahu nomer alternatif yang bisa dihubungi. ulanya saya dikontak oleh seseorang bernama Simon, untuk menunggu barang beberapa menit sambil mendengarkan siaran via handphone. Oke. Saya menunggu, sambil tentunya deg-degan bukan main. Beberapa saat kemudian, terdengar suara host "Baiklah pendengar, sekarang kita telah terhubung dengan Bapak Adi Toha yang merupakan pendiri dan pengelola Rumah Baca Jala Pustaka di Pekalongan, yang akan menceritakan tentang Pendirian dan pengelolaan Rumah Bacanya. Oke, Bapak Adi Toha, bisa mendengar suara saya? Oke Bapak Adi, bisa anda ceritakan, bagaimana awal mula pendirian Rumah Baca yang anda dirikan"

Lewat handphone saya menjawab, bahwa Jala Pustaka, berawal dari kegemaran dan kecintaan saya terhadap buku dan keresahan melihat keadaan masyarakat yang minat bacanya rendah karena mungkin jauh dari buku, ataupun karena keterbatasan akses, sampai akhirnya saya berinisiatif untuk membuka sebuah Rumah Baca kecil-kecilan yang bisa dinikmati oleh masyarakat luas terutama masyarakat desa dengan tingkat ekonomi menengah ke bawah, dengan cuma-cuma tanpa dipungut sepeser pun. Sedikit saya bercerita tentang pengelolaan Jala Pustaka, prosedur peminjaman buku yang hanya menuntut kejujuran dan tanggung jawab peminjam. Sebelum saya berbicara lebih banyak lagi... Eh, tiba-tiba, sambungan terputus. Lalu saya menunggu beberapa saat. Ada panggilan lagi ke nomer telepon alternatif yang telah saya berikan sebelumnya, kali ini saya berbicara lewat telepon biasa.

Saya mendengar host bertanya lagi "Oke Bapak Adi, maaf pembicaraan kita terputus. Kita akan sambung lagi. Oke, Bapak, Anda kan pernah menuliskan bahwa buku adalah jendela dunia, di mana ilmu terhampar luas tak terbatas, bisa anda jelaskan kenapa seperti itu..." Saya pun mulai menjawab lagi. Buku adalah jendela dunia, karena dalam buku, terdapat begitu banyak ihal yang bisa kita temukan, ilmu, pengetahuan, informasi, kisah-kisah, bisa kita pelajari, dari buku. Begitu banyak hal yang bisa kita baca dari sana. Kita bisa tahu tingkat pencapaian suatu peradaban dengan membaca buku-buku. Kita bisa mengetahui peristiwa yang terjadi di masa lalu, di belahan bumi mana pun, salah satunya dengan buku. Dengan membaca buku... blablablablabliblibliblublublublu.. Eh, sebelum saya sempat bicara lebih banyak, tentang apa-apa yang sudah saya reka-reka sebelumnya, tiba-tiba sambungan terputus lagi.

Saya hanya bisa berkata "Dooohhhh, kok putus lagi sih." Saya tunggu beberapa saat, ternyata tidak ada panggilan lagi. Well, The Show is Over. Hmmmm. Saya hanya bisa tersenyum. Kesel sih sebenarnya. Tapi ya, gimana lagi. The Time is Over. The Show has End. Padahal banyak hal yang belum saya sampaikan, dan akhirnya, khayalan tingkat tinggi saya hanya menjadi sekedar khayalan tingkat tinggi.

Hmm. Tak mengapa, setidaknya, Jala Pustaka sudah terdengar sampai ke Australia. Mudah-mudahan, ini bisa menjadi riak-riak kecil yang akan menjadi gelombang kepedulian masyarakat dan pemerintah terhadap perkembangan rumah baca dan literasi pada umumnya. Dan bagi Jala Pustaka sendiri, setidaknya bisa menjadi penyemangat untuk lebih aktif dan kreatif bergiat dalam mengembangkan dunia literasi di Pekalongan khususnya.


(Adi Toha)

0 komentar:

Posting Komentar